Cara menjual kepada orang yang skeptis sedikit berbeda. Mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk bertransaksi dengan Anda. Mereka bersikap seperti itu karena memiliki keraguan, kekhawatiran, atau bahkan trauma. Pelajari cara meyakinkan mereka melalui artikel berikut ini.

7 Cara Menjual Pada Orang Skeptis

cara menjual
Cara menjual pada orang skeptis

Mengakui Kekhawatiran

Untuk memenangkan hati orang yang skeptis, sebaiknya Anda mencari tahu penyebab sikap tersebut. Ada beberapa faktor penyebab mereka berperilaku skeptis, seperti.

  • Pernah ditipu,
  • Budget terbatas,
  • Kurang mengenal produk Anda,
  • Produk yang ingin dibeli tergolong sensitif seperti produk kesehatan atau kecantikan, 
  • Sering mendapati produk yang kurang sesuai dengan yang dijanjikan,
  • Dan lain-lain.

Setelah Anda mengetahui penyebabnya, cobalah untuk menunjukkan sikap empati. Akui jika Anda memahami perasaan mereka. Hal ini akan membantu mengurangi tekanan pada orang skeptis. Sehingga mereka akan lebih nyaman untuk berinteraksi dengan Anda.

Menjelaskan Value Produk Bukan Fitur

Pelanggan lebih tertarik untuk mengetahui value pada produk Anda. Meski fitur penting, value membuat sebuah produk menjadi lebih bernilai di mata konsumen. Value produk adalah manfaat atau nilai yang diberikan oleh sebuah produk kepada pengguna. Ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, termasuk.

  • Fungsional, 
  • Emosional, 
  • Ekonomi, dan 
  • Sosial 

Sederhananya, pelanggan lebih mencari keuntungan seperti apa yang akan yang mereka peroleh dengan menggunakan produk Anda. Ketika Anda berhasil memaparkan value kepada pelanggan, ini membantu mempersuasi mereka untuk segera membeli produk. 

Baca juga: Penjualan Anda Kurang Meningkat? Ayo Coba Lakukan Sales Canvassing!

Menjelaskan Secara Transparan

Hindari untuk melebih-lebihkan ketika menjelaskan kelebihan suatu produk. Contohnya seperti mengklaim produk Anda dapat menghilangkan jerawat hanya dalam 3 hari. Padahal nyatanya bukan seperti itu. Ini sama saja dengan Anda berbohong kepada pelanggan. Pelanggan bisa kabur.

Oleh karena itu, Anda perlu menjelaskan secara terbuka dan transparan. Jika terdapat kekurangan pada produk, komunikasikanlah dengan baik. Kemudian, coba tutupi kekurangan tersebut dengan kelebihan yang ada. 

Menunjukkan Bukti

Pelanggan yang skeptis tentu akan membutuhkan bukti bahwa produk atau jasa Anda sesuai dengan value yang dipromosikan. Bukti yang Anda dapat tunjukkan kepada pelanggan adalah sebagai berikut.

  • Testimoni pelanggan yang puas memakai produk Anda,
  • Data atau fakta yang mendukung value yang dijelaskan, dan
  • Video yang memperlihatkan hasil secara langsung.

Baca juga: 7 Skill yang Harus Anda Miliki untuk Menjadi Eksportir Sukses

Menunjukkan Tanggung Jawab

Keseriusan pelaku usaha terhadap bisnis dan pelanggannya dapat dilihat dari sikap tanggung jawab yang ditunjukkannya. Sikap tanggung jawab dapat berupa beberapa hal.

  • Memberikan garansi,
  • Memberikan free sample produk,
  • Memberikan free trial, dan
  • Memelihara hubungan setelah terjadi penjualan (maintenance after sales).

Dengan menunjukkan tanggung jawab, kekhawatiran pelanggan dapat hilang.

Lakukan Diferensiasi dengan Kompetitor

Diferensiasi adalah strategi bisnis yang bertujuan untuk membedakan suatu produk atau jasa dari kompetitor. Ada beberapa cara untuk melakukan diferensiasi, antara lain.

  •  Menawarkan fitur yang lebih lengkap atau unik,
  •  Menawarkan kualitas yang lebih tinggi,
  •  Menawarkan layanan yang lebih baik, dan
  • Menciptakan citra yang unik.

Diferensiasi bukan hanya tentang menawarkan sesuatu yang berbeda. Tetapi juga tentang menunjukkan kepada pelanggan mengapa produk atau jasa Anda lebih baik daripada yang ditawarkan oleh kompetitor.

Mengevaluasi Penolakan Pelanggan

Anda sudah mengusahakan segala hal, tapi pelanggan masih menolak membeli? Ada dua hal yang mungkin terjadi. Pertama, mereka bukan target market Anda. Kedua, mereka skeptis dengan kualitas produk Anda.

Apapun kemungkinannya, Anda harus tetap mengevaluasi penyebab mereka menolak tawaran Anda. Anda bisa menanyakan ke pelanggan tersebut, apa alasan mereka menolak penawaran Anda. Dengan begitu, Anda dapat membuat penawaran yang lebih efektif ke depannya.

Penulis: Nabila Zain

Editor: Erlinda Sukmasari